Aku ingat ketika aku diberikan pertanda bahwa Mama sakit. Pagi itu aku terbangun dari tidur tapi menangis, aku sepertinya rindu Mama. Aku bangun dan merasa senang karena sadar bahwa ini adalah hari Sabtu. Dan karena hari ini aku sedang kebagian shift siang, maka aku tidak menerima job menari agar aku bisa pulang ke Bekasi dan menghabiskan hari Minggu di rumah.
Aku tinggal di sebuah mess milik tempatku bekerja ketika itu di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan. Selain bekerja sebagai Front Office di sebuah laboratorium kesehatan, aku memiliki pekerjaan sampingan sebagai penari tradisional untuk wedding ceremony. Aku menekuni pekerjaan sampingan ini sejak duduk di kelas 2 SMP. Job menari datang setiap hari Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu aku termasuk salah satu penghuni mess yang tidak bisa terlalu sering pulang ke rumah ketika akhir pekan tiba. Bisa pulang ke rumah ketika akhir pekan biasanya membuatku sangat bersemangat.
Tetapi perasaan senang karena akan pulang ke rumah hari itu berubah ketika aku menerima kabar bahwa Mama harus dibawa ke rumah sakit. Tidak kusangka pula ternyata Mama harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena stroke. Masih terngiang-ngiang di telingaku ketika aku menghampiri Mama yang terbaring di ruang Emergengy. Kata-kata pertama dari Mama yang terucap ketika melihatku adalah,"Lia j-jangan na-ngis, ma-afin Ma-ma ya.."
Suara Mama tidak lancar dan terdengar sulit berbicara. Bagaimana bisa aku tidak menangis, mengapa harus seorang ibu yang memohon maaf kepada anaknya karena ia membuat anaknya menangis. Sungguh justru mungkin aku adalah salah satu orang yang sering membuatnya menangis. Ketika melahirkanku, ketika aku sakit, ketika ia menyebut namaku disetiap doa-doanya, atau mungkin pula ketika aku tidak sengaja menyakiti hatinya. Bagiku tetap harus akulah yang meminta maaf padanya, apapun alasannya itu, kapanpun itu.
Ketika dipindahkan ke ruangan rawat inap pun Mama kembali mengucapkan kata-kata yang hampir sama. Waktu itu dokter memeriksa kondisi Mama dan memberikan beberapa instruksi agar Mama membalasnya dengan beberapa respon. Namun Mama justru meresponnya dengan berkata, "Lia ga bo-leh na-ngis du-lu, ba-ru sa-ya ja-wab."
Mama tidak lama menjalani rawat inap, hanya 8 jam saja. Setelahnya Mama mengalami comma dan harus dipindahkan ke ICU.
Esok harinya, 11 Januari 2009, aku mendengar sebuah seruan, "Mba, Mamanya kritis!" Aku mendengarnya dua kali. Yang pertama, setelah ashar. Seruan ini ditujukan kepada seorang anak perempuan yang usianya kira-kira hampir sama denganku. Aku sempat bertemu dengan anak itu sekitar pukul 12 siang di Apotik. Kami saling menyapa dan mendoakan untuk kesembuhan ibu-ibu kita yang berada di ruangan ICU yang sama. Ibunya berpulang hanya selang beberapa menit saja setelah anak itu masuk mengikuti perawat yang berseru kepadanya tadi. Suasana ketika itu tidak dapat aku gambarkan. Terlalu menakutkan. Suara tangis dan teriakannya sangat keras memecah ruang di sekelilingnya.
Kalimat sama yang kedua, aku dengar sangat dekat di telingaku sebelum azan maghrib, "Mba, Mamanya kritis!" Kejadian itu terasa sangat cepat. Tapi aku ingat detik demi detiknya. Bagaimana aku memeluk tubuh Mama, melihat wajahnya, melihat monitor vital sign, berulang, bergantian. Mama berpulang setelah aku berkata bahwa aku ikhlas. Meski tubuhku menjadi lemas, senyum terakhir Mama membuat oksigen mengalir deras ke paru-paruku setelahnya. "Mba, Mamanya cantik banget," suara yang sama seperti suara ketika kudengar berseru di ruang tunggu keluarga sebelumnya. Aku lihat perawat di samping Mamaku itu matanya berkaca-kaca.
Butuh satu minggu untuk aku mampu ke luar kamar dan melihat kembali ke sekitar. Aku mengalami sebuah mimpi di malam setelah pemakaman. Almh. Mama datang ke mimipiku. Dalam mimpiku itu, aku memeluk Mama amat sangat erat. Aku menangis dan bertanya mengapa Mama pergi. Mama tersenyum dan berkata bahwa ia tidak pergi, ia kembali, ia hanya berkunjung ke makam alm. Papa saja. Aku menangis kembali, kali ini sangat menyesakkan. Sampai terbangun pun mataku basah dan suaraku terisak. Mungkin itulah alasan mengapa aku tidak ingin beranjak dari kamar. Aku ingin selalu terpejam dan bermimpi kembali, tidak peduli seberapa besar energiku terkuras untuk menangis kembali.
Kakakku dan sepupuku mencoba menghibur. Pergi ke luar rumah atau ke toko buku mungkin cara yang baik menurut mereka. Aku menolak. Sore harinya di hari Minggu tepat seminggu dari berpulangnya almh. Mama, kakakku memberikanku sebuah buku. La Tahzan: Jangan Bersedih! Karya Aid al-Qarni.
Dari banyaknya kalimat-kalimat indah di dalamnya, aku cukup mampu mengingat barisan ini, "Zaman mengancamku, dan ia tidak tahu bahwa aku menjaga diri, dan bagiku peristiwa zaman tak membebani. Zaman memperlihatkan bagaimana melakukan ancamannya, begitu juga aku menampakkan kesabaranku bagaimana adanya."
Aku ingin sabarku seperti itu. Cukup bagaimana aku mengusahakannya untuk diriku dan kedua orang tuaku. Bagaimana adanya. Bagaimana ujian dan takdir beriringan denganku. Tentang bagaimana aku menjaga diriku dan menjalani jalan yang ada di hadapanku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus memulainya ketika itu. Tapi aku ingin seperti itu, dan berusaha untuk itu.
Aku tinggal di sebuah mess milik tempatku bekerja ketika itu di daerah Warung Buncit, Jakarta Selatan. Selain bekerja sebagai Front Office di sebuah laboratorium kesehatan, aku memiliki pekerjaan sampingan sebagai penari tradisional untuk wedding ceremony. Aku menekuni pekerjaan sampingan ini sejak duduk di kelas 2 SMP. Job menari datang setiap hari Sabtu dan Minggu. Oleh karena itu aku termasuk salah satu penghuni mess yang tidak bisa terlalu sering pulang ke rumah ketika akhir pekan tiba. Bisa pulang ke rumah ketika akhir pekan biasanya membuatku sangat bersemangat.
Tetapi perasaan senang karena akan pulang ke rumah hari itu berubah ketika aku menerima kabar bahwa Mama harus dibawa ke rumah sakit. Tidak kusangka pula ternyata Mama harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena stroke. Masih terngiang-ngiang di telingaku ketika aku menghampiri Mama yang terbaring di ruang Emergengy. Kata-kata pertama dari Mama yang terucap ketika melihatku adalah,"Lia j-jangan na-ngis, ma-afin Ma-ma ya.."
Suara Mama tidak lancar dan terdengar sulit berbicara. Bagaimana bisa aku tidak menangis, mengapa harus seorang ibu yang memohon maaf kepada anaknya karena ia membuat anaknya menangis. Sungguh justru mungkin aku adalah salah satu orang yang sering membuatnya menangis. Ketika melahirkanku, ketika aku sakit, ketika ia menyebut namaku disetiap doa-doanya, atau mungkin pula ketika aku tidak sengaja menyakiti hatinya. Bagiku tetap harus akulah yang meminta maaf padanya, apapun alasannya itu, kapanpun itu.
Ketika dipindahkan ke ruangan rawat inap pun Mama kembali mengucapkan kata-kata yang hampir sama. Waktu itu dokter memeriksa kondisi Mama dan memberikan beberapa instruksi agar Mama membalasnya dengan beberapa respon. Namun Mama justru meresponnya dengan berkata, "Lia ga bo-leh na-ngis du-lu, ba-ru sa-ya ja-wab."
Mama tidak lama menjalani rawat inap, hanya 8 jam saja. Setelahnya Mama mengalami comma dan harus dipindahkan ke ICU.
Esok harinya, 11 Januari 2009, aku mendengar sebuah seruan, "Mba, Mamanya kritis!" Aku mendengarnya dua kali. Yang pertama, setelah ashar. Seruan ini ditujukan kepada seorang anak perempuan yang usianya kira-kira hampir sama denganku. Aku sempat bertemu dengan anak itu sekitar pukul 12 siang di Apotik. Kami saling menyapa dan mendoakan untuk kesembuhan ibu-ibu kita yang berada di ruangan ICU yang sama. Ibunya berpulang hanya selang beberapa menit saja setelah anak itu masuk mengikuti perawat yang berseru kepadanya tadi. Suasana ketika itu tidak dapat aku gambarkan. Terlalu menakutkan. Suara tangis dan teriakannya sangat keras memecah ruang di sekelilingnya.
Kalimat sama yang kedua, aku dengar sangat dekat di telingaku sebelum azan maghrib, "Mba, Mamanya kritis!" Kejadian itu terasa sangat cepat. Tapi aku ingat detik demi detiknya. Bagaimana aku memeluk tubuh Mama, melihat wajahnya, melihat monitor vital sign, berulang, bergantian. Mama berpulang setelah aku berkata bahwa aku ikhlas. Meski tubuhku menjadi lemas, senyum terakhir Mama membuat oksigen mengalir deras ke paru-paruku setelahnya. "Mba, Mamanya cantik banget," suara yang sama seperti suara ketika kudengar berseru di ruang tunggu keluarga sebelumnya. Aku lihat perawat di samping Mamaku itu matanya berkaca-kaca.
Butuh satu minggu untuk aku mampu ke luar kamar dan melihat kembali ke sekitar. Aku mengalami sebuah mimpi di malam setelah pemakaman. Almh. Mama datang ke mimipiku. Dalam mimpiku itu, aku memeluk Mama amat sangat erat. Aku menangis dan bertanya mengapa Mama pergi. Mama tersenyum dan berkata bahwa ia tidak pergi, ia kembali, ia hanya berkunjung ke makam alm. Papa saja. Aku menangis kembali, kali ini sangat menyesakkan. Sampai terbangun pun mataku basah dan suaraku terisak. Mungkin itulah alasan mengapa aku tidak ingin beranjak dari kamar. Aku ingin selalu terpejam dan bermimpi kembali, tidak peduli seberapa besar energiku terkuras untuk menangis kembali.
Kakakku dan sepupuku mencoba menghibur. Pergi ke luar rumah atau ke toko buku mungkin cara yang baik menurut mereka. Aku menolak. Sore harinya di hari Minggu tepat seminggu dari berpulangnya almh. Mama, kakakku memberikanku sebuah buku. La Tahzan: Jangan Bersedih! Karya Aid al-Qarni.
Dari banyaknya kalimat-kalimat indah di dalamnya, aku cukup mampu mengingat barisan ini, "Zaman mengancamku, dan ia tidak tahu bahwa aku menjaga diri, dan bagiku peristiwa zaman tak membebani. Zaman memperlihatkan bagaimana melakukan ancamannya, begitu juga aku menampakkan kesabaranku bagaimana adanya."
Aku ingin sabarku seperti itu. Cukup bagaimana aku mengusahakannya untuk diriku dan kedua orang tuaku. Bagaimana adanya. Bagaimana ujian dan takdir beriringan denganku. Tentang bagaimana aku menjaga diriku dan menjalani jalan yang ada di hadapanku. Aku tidak tahu bagaimana aku harus memulainya ketika itu. Tapi aku ingin seperti itu, dan berusaha untuk itu.
QS 2:153
BalasHapus